Langsung ke konten utama

Pernah Jatuh Cinta


             Pagi ini langit terlihat berseri. Mentari menanggalkan senyum hangatnya ke bumi. Burung-burung seakan melengkapi hari yang indah ini dengan berkicauan di atas ranting pohon. Dengan langkah penuh semangat aku menelusuri koridor sekolah. Menyunggingkan senyum manis tiada henti. Bukan karena pelajaran yang akan di ajarkan hari ini, bukan pula karena para guru akan mengadakan rapat mendadak. Tapi karena kejadian kemarin di toko buku. Anganku melayang jauh memutar kembali kejadian dimana aku bertemu kedua kalinya dengan seorang pria--pandangan pertama.

            Sebenarnya pertemuan itu adalah pertemuan tak di sengaja dan sangatlah sederhana. Saat tanganku terulur untuk meraih sebuah novel karya Andrea Hirata ada tangan lain yang juga ingin meraih novel tersebut. Saat pandanganku berbalik kepada sosok itu jantungku berdegup kencang serasa mau copot, seakan-akan darahku berhenti berdesir, kedua mata kami saling beradu. Seketika aku tercengang menatap wajah nan tampan dihadapanku. Hingga sebuah teguran membuyarkan lamunan, “maaf, kamu mau ambil buku ini?”

“E-enggak ... eh iya, iya aku mau ambil buku ini,” jawab Cindy gugup.

“Eh, kamu Kak Danish, kan? Ketua Event Menulis di Aula Kota? "

“Iya, em ... kamu peserta Event Menulis, ya?” tanya Danish.

“Iya Kak, Kakak suka baca novel juga, ya?”

“Iya donk. Kamu juga?”

 “Eh?” keningku sedikit berkerut.

Aku kan paling anti baca novel, lagian aku mampir ke toko buku kalo bukan karena Kakakku yang cerewet, males banget. Namun segera mata ini paham dengan tatapan Danish yang terarah pada tangan kiriku yang menggenggam novel lain.

“Oh, ini?” ucapku sambil mengangkat tangan. Hari itu memang mendebarkan dalam hidupku, mimpi apa semalam hingga aku bisa berkenalan dengan sosok malaikat tampan yang pernah kujumpai pada sebuah Event dua minggu lalu.

***

            Bunyi bel tanda jam pelajaran telah berakhir berdering nyaring, inilah saat yang kutunggu-tunggu. Aku berlari-lari kecil menuju gerbang, berdiri disana dan sesekali menengok kanan-kiri hingga akhirnya mobil Honda Jazz berwarna merah melaju menghampiriku. Hari ini aku ada janji dengan Kak Danish untuk pergi ke toko buku bersama. Sepanjang perjalanan kami terlihat akrab sekali, mungkin sedikit terlihat warna merah di pipiku karena malu saat dia menatap lekat wajah ini. Serasa melayang di awan yang di penuhi bunga setaman ketika sebuah buaian gombal mendarat dari bibir Kak Danish.

“Kamu kalo senyum biasa aja, dong. Masa membekas di hati nggak hilang-hilang.”

“Ah, Kakak mah bisa aja.”Aku merunduk.

             Kini setidaknya seminggu sekali kami selalu pergi ke toko buku bersama. Aku juga sering di ajak Kak Danish mengurus Organisasi ke-Penulisannya hingga melibatkan aku untuk mengoreksi beberapa naskah miliknya. 

Tadinya aku memang paling malas kalau harus menatap jajaran huruf abjad yang sangat padat, bahkan pernah aku di sodori novel ringan karya Hannaniel Yoreiza oleh guru bahasaku, bukannya dibaca aku malah tertidur. Kini setelah sebuah novel ala roman, Kak Danish berikan kepadaku, aku jadi rajin membaca. Pernah beberapa kali aku mendatangi toko buku langganan Kak Danish hanya untuk menunggunya walau hanya sia-sia. Siapa tau dia juga kesini, pikirku.

            Malam ini bintang terlihat cantik, rembulan bergelayut manja di lagit biru memancarkan cahayanya yang berkilau di malam sunyi. Aku terbaring di tempat tidur, pikiranku terus tertuju pada sosok Kakak kelas yang memang berbeda sekolah. Aku benar-benar telah terhipnotis oleh sosok itu, sosok dimana telah membuat hatiku bertekuk lutut hingga jatuh dan mencinta. 

“Sepertinya aku jatuh cinta sama Kak Danish. Dia sangat tampan, ketua Event Menulis, dan menjadi idola di sekolahnya, mungkinkah aku bisa bersanding dengannya? Oh Tuhan. Apa Kak Danish juga ngerasain apa yang aku rasain?” gumamku sepanjang malam hingga benar-benar terlelap dalam mimpi.

***

            “Sial, gue telat!”  segera aku berlari menembus pagar sekolah yang hampir saja di tutup. Aku masih beruntung, sesaat setelah kedatanganku guru matematika yang terkenal killer seantero SMA Bina Nusa memasuki ruang kelas.

“Tumben lo telat, Cin?” ucap Mia teman sebangkuku sekaligus sahabat karibku sejak SMP.

“Semalem gue nggak bisa tidur, jadinya gue bangun kesiangan deh.”

            Hari ini aku lebih banyak melamun di banding memperhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas. Teguran demi teguran telah di lontarkan padaku dan berkali-kali pula aku mengabaikan teguran tersebut. Persetan, bantinku.

“Lo kenapa sih, Cin? gue liatin dari kemaren kok banyak ngelamunnya? Kadang senyum sendiri, kadang sok sedih.”

“Gue lagi mikirin Kak Danish, Mi ...,” jawabku reflek, “eh, bu-bukan, maksud gue ....”

“Ciah, ketawan lo!” potong Mia spontan.

“Jadi lo lagi jatuh cinta ni ceritanya? Sama Danish? Oh ... bukannya dia ketua Event di Aula Kota 2 minggu lalu? Dia sekolah di SMA Taruna yang terkenal itu kan, Cin. Wah, lo kok nggak cerita sih sama gue? Jadi lo telat gara-gara semalem mikirin si doi?” aku hanya bisa melongo menatap sahabatku yang memiliki mulut seperti bus patas itu.

Memang benar sudah sebulan ini aku terus melamuni Kak Danish. Sesekali kutiitikkan air mata rindu. Entah mengapa aku jadi seperti ini, jatuh cinta yang menyakitkan, benar-benar menunggu.

“Andai aku punya nyali untuk mengatakan sejujurnya sama Kak Danish.”


***


“Iya, Kak Danish. Ada apa ya, ngajakin aku ketemu disini?”

“Aku mau ngasih ini ke kamu, datang ya? Aku tunggu kamu malam ini,” tangan Kak Danish mengulurkan sebuah undangan berwarna navy.

“Aku pasti datang kok, Kak,” aku tersenyum kecil.

            Aku berdiri di depan kaca, membolak-balikkan tubuh dan sesekali menambah make up ke wajah, perfect. Malam ini aku benar-benar terlihat cantik dengan dress simpel warna pink dihiasi bando putih di kepala.

 “Tuhan, malam ini di hari spesialnya Kak Danish, dan inilah saatnya ngomong jujur kalo aku sayang sama dia. Tuhan, beri aku keberanian ya?” aku mulai berbicara sendiri didepan cermin  memperagakan bagaimana nantinya.

“Kak Danish, aku sayang sama Kakak, aku pengen jadi pacarnya Kak Danish, apa Kak Danish juga cinta sama Cindy? Aaaa ... gue bisa gue bisa!!”

            Berbekal tas kecil berisi kado untuk Kak Danish, aku segera berangkat bersama supirku. Kuhampiri rumah Mia. Aku memang tak bisa pergi sendirian, terlalu penakut jika harus bergelut dengan orang banyak tanpa kukenal sendirian. Tak lama, kami pun sampai di halaman rumah pujaan hatiku. Lampu warna-warni gemerlap menghiasi malam ini, banyak makanan dan minuman tersedia di meja. Para muda-mudi berpasangan saling berdansa menikmati alunan musik lembut yang diberikan DJ. Terkecuali diriku, aku yang baru saja datang segera duduk di kursi kosong dekat kolam yang di hiasi lilin-lilin kecil. Berharap pangeran impianku segera datang menghampiri.

“Sial, si Mia malah ketemu sama Ryan. Alamat bakal di tinggal sendiri nih gue, huh! Mia ... Mia.” Umpatku kesal.

“Hai Cin? Apa kabar? Lo juga di undang kemari ya?” sapa seorang pemuda tampan jangkung berkulit putih .

“Exel? Ini beneran lo? Ya Tuhan, udah dua tahun gue nggak ketemu elo, lo kemana aja sih Xel?” aku tertegun melihat teman SMP ku yang sudah lama tak kujumpai.

“Gue sekolah di Surabaya, Cin, tapi karena bokap mau ngejalanin usahanya dimari jadi gue pindah kesini lagi deh. Sekalian nyamperin sepupu gue si Danish yang ulang tahun,” jelasnya panjang lebar.

Aku terperanjat. Jadi selama ini Exel dan Kak Danish sodaraan? Oh my God kenapa gue nggak tahu.

“Elo dan Kak Danish, sepupu? Sejak kapan?” ucapku setelah beberapa saat kami saling terdiam.

“Hahaha ...,” Exel tertawa. “Ya sejak lahir lah, kamu baru tahu, ya? Oh iya lupa, kan si Danish asli orang Surabaya, dia sama kaya aku, pindah-pindah sekolah. Maklum orang tua kita bisnisman.”
 Eer
            Kami bercakap lama sekali menceritakan pengalaman masing-masing. Tatapan Exel masih terlihat nanar seperti saat dulu. Entah mengapa aku tak kuasa menatap matanya, tak seperti pada saat aku menatap pria lain, terutama Kak Danish.

            Berjuta bayangan rumit berkecamuk dalam pikiranku tentang Exel. Ya, aku merindukannya, itulah yang ada dalam benakku saat ini. Aku menepisnya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku.

“Gue yakin, Exel pasti udah ngelupain semuanya dan gue harus tetap ngomong ini ke Kak Danish,” batinku gugup.

“Hai Cindy? Dah lama ya, aku nungguin kamu loh dari tadi.” Tiba-tiba Kak Danish muncul dihadapan kami.

“Happy birthday ya, Kak. God bless you,” ucapku sembari mengulungkan kado spesial yang sudah kupersiapkan.

“Thanks imut,” Danish mencubit pipi ini.


Jantungku berdegup kencang, aku menimbang-nimbang kembali keinginanku, mana mungkin aku mengatakan cinta pada Kak Danish sedangkan Exel juga berada disampingku. Namun di balik kebimbangan, aku mencoba mengumpulkan nyali untuk mengatakan semua, semua yang ada dalam hati kecil yang benar-benar menginginkan sosok di hadapanku. Kutatap lekat mata Danish.

“Kak, aku pengen ngomong sesuatu sama Kakak, ta-tapi Kakak jangan marah ya?”

“Ngomong aja Cin.”

Aku menengok ke arah Exel, nampaknya ia mengerti. Aku tak peduli.

“A-a-aku ... pengen jujur sama Kakak kalo aku s-sa ....”

“Hai sayangku, happy birthday ya?” tiba-tiba seorang gadis cantik berambut pirang datang dan mencium Danish, mereka saling berpelukan.


Aku terperanjat seketika. Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Seakan-akan aku tak mempercayai apa yang terjadi. Kesedihan hatiku membuncah, menggoreskan segurat duka lara. Aku hampir menangis di buatnya, mencoba sekuat mungkin menahan agar derai air mata ini tak terjatuh. Namun mata ini tak sanggup lagi membendung air kesedihan yang mungkin sebentar lagi akan membanjiri pipi.

“Sayang, kenalin, ini Cindy adik kelasku. Oh ya Cin, kamu tadi mau ngomong apa?”

“Aku cuman mau ngomong kalo aku salut sama kepandaian Kakak,” suaraku bergetar.

Aku berlalu meninggalkan mereka. Batin ini begitu sakit. Perih. Bagaikan di iris sembilu. Kutinggalkan keramaian pesta malam itu. Tanganku terus menutupi bibir, agar jeritan kecil tak begitu terdengar siapapun. Langkahku gontai menuju sebuah trotoar. Hatiku tersayat. Terus menangis menyesali rasaku yang salah, harapan ini benar-benar musnah.

“Tuhan, rasanya sakit sekali ... kenapa Kak Danish nggak bilang dari awal kalo dia udah punya pacar, kenapa dia tega bikin aku berharap dan membiarkan rasa ini terus tumbuh, Tuhan? Lalu apa arti dari kedekatannya selama ini!?” jeritku lirih.

Kudekap erat kedua lututku, membenamkan wajah kusut yang penuh dengan kegetiran. Betapa malangnya nasib percintaanku.

Deru sebuah mobil sport terdengar nyaring berhenti di depanku, aku mendongak menatap siapa yang datang.

“Exel?” suara ini masih bergetar.

“Gue udah tau semua dari Mia,” Exel mendekat dan duduk di sampingku.

“Danish emang begitu, dia ngedeketin lo karena dia seneng punya temen sehobi sama dia, sebab ceweknya bertolak belakang sama kegemarannya. Mungkin lo salah mengartikan kedekatan Danish selama ini.”

“Hah ... rasanya sakit banget Xel, lo nggak bakal bisa ngerasain apa yang gue rasain!” nada bicaraku sedikit meninggi.

“Siapa bilang? Apa lo nggak inget waktu lo nolak cinta gue dan lebih memilih Dion? Apa lo tau yang gue rasain saat itu dan mungkin sampai sekarang Cin. Lo nggak tau betapa sakitnya gue mencintai orang yang sama sekali nggak menghargai gue.” Aku terdiam. Kutundukan wajah ini dengan nafas yang masih sesengguk-an.

“Xel ... maafin gue, gue--”

“Dua tahun gue memendam rasa sakit itu, hingga akhirnya gue di pertemukan dengan gadis itu lagi hingga gue inget semua kejadian dulu yang udah susah payah gue pendam. Mungkin gadis nggak tahu kalo gue masih sayang sama dia dan rasa sayang itu nggak berubah sedikitpun,” Exel menatap lagit, matanya sedikit berkaca-kaca.

            Kupeluk tubuh Exel, tangisanku semakin menjadi. Sungguh tak menyangka bahwa ada lelaki setangguh Exel yang mampu mencintaiku setulus hati dan mampu menyimpan rasanya dengan rapi selama bertahun-tahun tanpa merubahnya sedikitpun.

            Masa lalu itu masih terasa segar dalam ingatan, masa dimana Exel sempat jatuh hati padaku. Betapa besar pengorbanannya untuk mendapatkan simpatiku. Mulai dari mengajukan diri saat aku yang salah, rela di jatuhi hukuman oleh guru demi menyelamatkanku dari peristiwa perkelahian, dan inilah yang paling besar, ia rela mengorbankan nyawanya demi aku hingga ia sempat koma selama seminggu. Namun apa daya, pintu hatiku benar-benar tertutup saat itu. Aku lebih memilih Dion demi popularitasku di sekolah, padahal sejujurnya diri ini menyimpan rasa sayang padanya. Oh Tuhan. Betapa egoisnya aku dulu, tak dapat aku membayangkan bagaimana luka Exel saat itu yang wajar saja masih membekas sampai saat ini.

            Aku mulai berfikir, apakah benar aku masih menyimpan rasa cinta pada Exel? Buktinya, aku tak berani menatap mata indahnya berlarut-larut. Apa mungkin rasa sayangku sama Kak Danish hanya sebatas mengagumi?

Kristal bening mulai menganak sungai, kucoba menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Xel, gue sadar sekarang betapa bodohnya gue mengabaikan rasa lo dulu. Gue salut sama semua ketangguhan yang lo miliki, gue sadar ternyata orang yang ada di sisi gue lebih sakit dari yang gue rasain sekarang. Xel, gue ingin ngelupain Kak Danish, gue ingin bahagia dengan orang yang bener-bener sayang sama gue yang mampu mencitai gue sampai saat ini.” Kurangkul lengan Exel dan menyandarkan kepalaku di bahu lelaki tampan itu.

“Tuhan, maafin Cindy. Cindy sadar kalo Cindy salah dan semoga Exel maafin Cindy dan mau memberi Cindy kesempatan,” ucapku keras. Exel tersenyum menatapku, di genggamnya jemari ini erat-erat. Kami terdiam menatap langit, melayang mengarungi pikiran masing-masing.

Exel berdiri mengulurkan tangannya dan kususul dengan jemariku.

“Gue sayang sama lo,” tegas Exel.

Sebuah kecupan sayang mendarat di keningku. Perlahan-lahan aku melupakan kejadian di pesta tadi.
 
Kudekati Exel, dituntunnya tanganku menaiki mobil, dibukakan pintu dan dipersilahkan putri barunya masuk. Aku tersenyum simpul, betapa bahagianya aku malam ini setelah beberapa lama tersiksa dengan harapan semu dari Kak Danish. 

            Aku bersyukur, dengan kejadian ini membuatku belajar menghargai perasaan orang lain. Biarlah Kak Danish menjadi cerita tersendiri dalam hidupku, biar bagaimana pun aku sempat melayang di buatnya, aku tak mengelah bahwa aku sempat jatuh cinta pada Kak Danish, aku akan tetap dan selalu mengagumi sosok Danish. Ya, sebatas mengagumi. kini sepanjang perjalanan tanganku terus di genggam erat oleh pangeran sejatiku. Exel, aku mencintaimu, Sayang.



Riska Multavia
April 2016
 

Komentar