Aku terpaku
menatap jam dinding, pukul 23.55. Ya, sebentar lagi adalah hari istimewaku dan
dia, kekasihku. Ini akan menjadi anniversary kita di tahun ke-2. Aku sudah
menyiapkan sepotong kue berry bertancapkan lilin-lilin kecil, berukiran nama
Dilla dan Roy. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Roy, ia berjanji akan
mendatangiku malam ini.
Sudah lewat tengah malam. Dan hampir satu jam aku menunggunya
di ruang tamu, Roy tak kunjung datang.
“Roy, ayo dong angkat telfonku!” berulang kali aku memanggil
Roy, namun tak ada jawaban sama sekali. Aku mulai panik. Kenapa tiba-tiba Roy
menghilang, tak seperti biasanya. “Apa yang sebernarnya terjadi, Tuhan?”
pekikku dalam hati.
***
Beberapa
minggu terakhir ini, aku memang kurang istirahat. Aku sedikit kelelahan mencari
kabar kekasihku kesana kemari. Dia menghilang begitu saja, tanpa memberi kabar
kepadaku. Aku sudah mengunjungi rumahnya, namun selalu kosong.
Aku ingin
cepat-cepat sampai. Kukumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk
melangkahkan kaki ini memasuki ruang kelas. Hari ini banyak jam kosong dan itu
tandanya aku bebas pergi ke taman sekarang juga. Aku masih ingin membuktikan
pesan singkat dari Roy pagi tadi.
Kududukkan tubuh ini di kursi putih, berusaha menarik nafas
dengan kuat lalu mengembuskannya secara perlahan. kuberanikan membuka pesan itu
sekarang, kupahami dari kata per kata. Ya, tidak berubah.
‘Dill, aku ingin
hubungan kita cukup sampai disini. Aku nggak bisa nerusin ikatan kita. Aku
minta sekarang juga kita putus.’
Perlahan-lahan butiran bening mengalir membasahi pipi. Bibir
ini bergetar seakan tak percaya. Segurat duka lara telah membasahi kalbu. Bak
teriris-iris sembilu, mengorek-orek seluruh isi jantung ini. Aku masih berharap
ini adalah mimpi buruk dan inginsegera bangun. Tapi tidak! Ini benar-benar
mustahil.
Kenapa dengan Roy? Kenapa tiba-tiba dia memutuskanku tanpa
sebab? Apa salahku? Aku masih tertunduk lesu di taman, terisakkan air duka pada
batin. Tak sanggup aku membendung kepedihan yang susah payah aku simpan sedari
pagi. Aku harus menemui Roy. Aku ingin tahu apa yang membuatnya memutuskanku,
sedangkan aku sendiri tak pernah berbuat dosa padanya.
Sepulang
kuliah aku menghampiri rumah Roy, dengan tenaga yang tersisa kutekan bel rumahnya.
Seperti mendapat kartu joker, sebuah keberuntungan datang padaku. Roy ada di
rumah.
“Roy?” sapaku dengan nada bergetar, “aku mau minta kamu
jelasin semuanya!”
“Udahlah, Dill. Apa lagi yang harus aku jelasin. Aku udah
bosan sama kamu. Mendingan sekarang kamu pulang dan lupain semua kenangan
kita.”
“Kamu bilang pulang dan lupain semua? Semudah itu, Roy? Eh?”
kelopak mataku mulai meneteskan kristal bening. Aku tau pasti ada alasan lain,
dari sudut mata Roy tampak sekali kalau ia berbohong, dan aku sangat hafal
dengan gerak-geriknya. Ia terdiam. Aku pun terus menatapnya dengan tatapan
tajam.
“Dilla?! Cukup! Aku mohon sekarang pulanglah, kita putus
baik-baik. Carilah lelaki yang baik jangan yang bejat seperti aku!”
Kata-kata terakhir Roy sontak mengagetkanku. Apa maksudnya?
Setahuku selama kita pacaran tak pernah secuil pun Roy menyakitiku. Aku
mengalah. Aku tak sanggup bertahan lama lagi untuk berdiri di hadapannya.
“Baik. Aku pergi.”
Aku berlari meninggalkan rumah itu secepatnya. Membekap mulut
ini agar tak menjerit di jalanan.
***
Aku masih
terpukul dengan kejadian tadi siang. Lelaki yang kucintai dan aku yakin masih
mencintaiku kini menjadi kenangan. Masih belum bisa hati ini mengikhlaskan
semua karena alasan Roy yang tidak masuk akal. Terakhir aku memandang, terdapat
butiran bening menggenang di sudut matanya. Ya, aku yakin ada alasan lain yang
membuatnya bersikap dingin padaku.
Kini, hari
demi hari kulalui sendiri. Tanpa seorang kekasih yang aku sayangi. Entah,
sekarang pun aku tak melihatnya lagi di kampus atau bahkan di warung tempat
biasa Roy dan teman-temannya berkumpul.
Aku
benar-benar rindu padanya. Aku berjalan lunglai menuju perpustakaan, tempat
favoritku dan Roy dalam menghabiskan waktu bersama, dulu. Seperti hari kemarin,
aku melamun di atas buku. Mengingat-ingat kenangan indah saat masih di pelukan
Roy.
Kenangan itu
masih segar di benakku, dimana saat ia menyiapkan sebuah kejutan romantis di
sebuah taman kota. Meja makan, lilin-lilin putih, dan setangkai mawar ia
persembahkan pada malam kelahiranku. Ia berlutut membacakan puisi romantis,
mengecup jemariku, dan menyanyikan sebuah lagu ulang tahun untukku ...
“Eh, ngapain lo senyum-senyum sendiri? Udah gila?” ucap Keke
mengagetkanku. Aku tersenyum.
“Dill, apa lo mau datang di pernikahannya Roy lusa?”
lanjutnya.
“Maksud lo apa, Ke? Roy nikah?” aku tersentak.
“Jadi selama ini lo nggak tau apa yang sebenernya terjadi
sama Roy? Astaga, gue minta maaf Dill, sebaiknya lo cepet nyamperin dia sebelum
lo menyesal.”
Bibir ini seakan terpaku, tak dapat mengucapkan apa-apa. Aku
meyakinkan diri kalau ini cuma halusinasi, tapi ini nyata!
Oh Tuhan, apalagi ini?
Aku tak
sabar ingin segera sampai di rumah Roy, dengan langkah tergesa aku meminta
supirku segera mengantarkan kesana.
Di sana sangatlah sunyi, pagar rumahnya terkunci rapat. Tak
ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Aku mendekat, ku tatapkan dengan jelas
pandanganku melalui celah-celah pagar putih milik Roy.
“Neng, ada yang bisa saya bantu?” sebuah tepukan di pundak
membuatku terkejut.
“E-e ... ini, Bik. Pemilik rumah ini pada kemana ya?” tanyaku
pada wanita setengah baya itu.
“Biasanya sih sebentar lagi pulang, Neng. Entah, akhir-akhir
ini mereka sering pergi. Coba di tunggu aja.”
“Terima kasih, Bik.”
Keningku berkerut. Semakin besar tanda tanya yang terselip
dalam benak ini. Benar-benar tak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi
pada kekasihku.
Deru sebuah
motor melaju ke arahku. Ini pasti Roy. Segera aku berbalik, benar itu
kekasihku. Aku menatap wajahnya, dia pucat dan matanya membengkak seakan ia
habis menangis. Ia berhenti dan membuka gerbang sedangkan aku masih terpaku
menatapnya.
“Ayo masuk.” Aku mengikutinya.
Segera ia
membuka pintu rumah dan mempersilahkan aku duduk. Aku terlihat seperti anak
kecil yang dengan polos mengikuti perintah ayahnya. Aku mengamati setiap
langkah Roy yang berjalan menuju dapur dan kembali membawakan dua buah kaleng
minuman soda.
“Ada apa, Dilla?” sapanya sendu sembari mendudukkan dirinya
di sampingku.
“Kamu kemana aja sih, kok nggak pernah ke kampus lagi?”
Dia tersenyum, “aku ... e ... itu, aku ....”
Tiba-tiba
wajahnya nampak gugup. Aku terus menatapnya, tak sejengkal pun dari raut
wajahnya terlewati oleh bidikan mataku. Nampaknya ia mulai ketakutan, duduknya
pun terlihat gelisah.
Kami terdiam beberapa saat, berjuta
bayangan rumit berkecamuk dalam pikiran. Apa mungkin yang di katakan Keke itu
benar? Tapi aku takut menanyainya, sepertinya Roy sudah tidak marah lagi
padaku. Keringat dingin membasahi telapak tanganku, kugenggam jemari Roy yang
juga tampak dingin.
“Roy?” ucapku memecah keheningan. Ia menatapku.Kukumpulkan keberanianku sekarang juga.
“Apa benar kamu ... akan m-menikah?” tanyaku gemetaran. Ia
hanya menunduk dan terdiam membuat jantung ini berdegup semakin kencang.
“Jawab, Roy!” kugoncang-goncangkan badan tegapnya.
“Iya, Dill.”
Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Aku hampir
menangis di buatnya, mencoba sekuat mungkin menahan agar derai air mata ini tak
terjatuh.
“Winda masih mengejarku.”
Roy menarik nafas, “ini semua kecelakaan Dill. Dia
menjebakku! Aku benar-benar terpedaya oleh rayuannya. Di malam itu, dia
memintaku untuk menemaninya karena orang tuanya sedang ke luar kota. Aku sempat
menolak namun aku tak kuasa melihat dia merengek di depanku. Hingga akhirnya
aku disidang keluargaku dan keluarga Winda tepat padahari jadi kita. Aku minta
maaf, Dil, karena selama ini telah menyebunyikan dosa besar kepadamu dan
bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun ....”
Roy menangis, “aku sudah bersusah payah menjelaskan semua
pada orang tuaku tapi apa daya, Winda tetap mengandung darah dagingku.”
“Aku tak percaya! Ya, ini pasti sandiwara! Cepat katakan
kalau ini bohong, Roy!”
Roy memeluk tubuhku sangat erat, kami menagis sejadi-jadinya.
Betapa biadabnya gadis itu! Aku menjerit dalam batin, air mata ini terus
membanjiri bahu Roy. Betapa pahit kenyataan yang sebenarnya.
“Mengapa harus terjadi pada hubungan kita?” isakku lirih.
“Biar bagaimana pun kamulah, Vadilla Sonya, wanita
satu-satunya yang aku cintai sampai mati.”
Ucapnya sambil mengusap air mata di pipiku.
Kini, aku
mencoba menguatkan Roy. Berusaha membuatnya bangkit dari keterpurukan,
setidaknya aku telah mengatakan bahwa ini sudah menjadi suratan dari-Nya.
Aku ingin Roy merasa tenang, meski dengan berat hati aku
melepas kepergiannya bersama wanita iblis itu. Kutahu diri ini masih rapuh
dengan kegetiran. Biarlah luka hari ini membawa kebahagiaan di hari yang akan
datang.
Pelukan dan kecupan hangat yang terakhir ia berikan padaku
akankukenang selamanya, akan kusimpan sampai akhir hayat nanti. Selamat dengan
kehidupan barumu Roy, aku mencintaimu.
Riska Multavia
Februari 2016
Komentar
Posting Komentar