Mengapa
kau tak membalas cintaku
Mengapa
engkau abaikan rasaku
Ataukah
mungkin hatimu membeku
Hingga
kau tak pernah pedulikan aku ...
***
Mata
ini masih belum bisa terpejam dengan sempurna, sesekali kulirikkan pandangan
menuju jendela kamar. Rintikan hujan membasahi sebagian bumi, membuat orang
semakin lelap dalam tidurnya. Lain halnya denganku, rintikan hujan itu semakin
mengingatkanku pada Reza. Sosok tampan yang pernah memabukkan hati.
Jam
dinding telah menunjukkan pukul satu. Aku yang tersentak segera melangkahkan
kaki menuju ruang tamu, pijakkan kaki di luar yang kukira adalah Reza ternyata
hanya seekor kucing yang mencari tempat berteduh. Kaki ini kembali melemas,
mataku mulai berkaca-kaca dan tak kuasa air mata menetes membasahi pipi. Ingatan
ini masih jelas dalam benak, betapa hati terasa remuk redam saat cinta tak
berbalas sedikitpun, salahkah bila aku mencintaimu, Za? Mengapa tak sedikitpun
kau menengok kearahku? Lihatlah aku yang begitu tulus mencintaimu.
Kuembuskan nafas perlahan, dengan sigap
kuraih ponselku dan menekan nomor telfon Reza, dalam hati ingin sekali
kumengadu bahwa malam ini aku tak dapat tidur karenamu, karena merindukanmu.
Mungkin sedikit suara indahnya mampu membuatku terlelap, namun ... kuurungkan
niatan itu.
***
Angin
musim dingin menghantarkanku menuju taman kota, embusannya membekukan setiap
hati yang terluka. Menguak duka, menyisakan tangis menjadi serpihan tak
berbentuk.
Kulangkahkan
kaki menuju keramaian. Menyaksikan para muda-mudi berpasangan saling memadu
kasih sepanjang jalan. Lain halnya denganku, yang hanya mampu mencintainya dari
jarak jauh. Kaki ini terus melangkah sembari
memasukkan kedua tangan dalam saku jaket, mataku memandang luasnya taman dengan
jeli, samar-samar kulihat sosok pujaan berada diujung taman.
“Reza?” senyum harapan tersungging dari
bibirku.
Sambil berlari-lari kecil kuhampiri ia,
seketika aku tercengang saat Reza pergi meninggalkan tempat itu bersama seorang
gadis dan balita. Aku berhenti, kutatap lekat langit yang nampak berwarna
oranye, kakiku tersa lemah, tak sanggup lagi rasanya menopang tubuhku hingga
kuterpuruk. Rupanya diri ini terlalu rindu pada sosok itu hingga terlarut dalam
bayangan.
Di bawah langit senja berlian bening
kembali menganak sungai. Sungguh kutakpeduli ketika orang-orang mulai
mengerumuniku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Bahuku berguncang, tanganku
terus menutupi bibir, agar jeritan kecil tak begitu terdengar siapapun.
Aku ingin melihat bintang meski hanya sekali dalam hidupku, namun mengapa selalu mendung yang tampak? Seperti itukah kau, Za?
Tangisanku mulai menjadi saat aku kembali
kedalam mobil. Seketika hujan deras
mengguyur bersama dengan suara guntur yang bersahutan, seakan langit memahami
apa yang kurasakan saat ini.
“Reza, cinta ini masih ada, semua masih
tertata rapi dan aku tak mengubahnya sedikitpun. Tiga tahun sudah kuberjuang
untuk mendapatkan cintamu, tiga tahun pula kau menghindarinya. Jika memang kau
mencintai wanita lain, tunjukkan padaku agar cukup sampai disini penantianku.
Aku lelah mengejarmu sedangkan kau sendiri terus berlari!” Jeritku lirih.
Apakah aku terlalu egois untuk
memintamu?
Mungkin, memang inilah jalan hidupku,
yang hanya bisa mendoakannya disetiap sujud, yang hanya bisa mencintainya lewat
tangisan. Kini kuseka sisa air mata yang mulai mengering.
Tuhan, buatlah aku tenang. Apapun yang
terjadi aku tetap mencintainya, walau tak secuilpun ia membalas rasa ini,
sedetikpun juga tak dihargai. Doaku akan terus terpanjat dalam setiap sujud
bersama dengan linangan air mata. Tuhan, salahkah bila aku menginginkannya menjadi
pelengkap hidupku? Biarlah kuterus menunggu sang pujaan hati ini, sang pemilik
cintaku untuk selamanya, sampai Kau memintaku kembali kepangkuan-Mu.
Riska Multavia
April, 2015
Komentar
Posting Komentar