Langsung ke konten utama

Miracle Of A Radio Announcer


            Seperti hari-hari lalu, setiap malam aku selalu mengurung diri di kamar, memutar saluran radio favoritku—Radio Rasta FM, tanpa menggubris keadaan di luar. Tak ada kegiatan lain yang kusuka selain mengurung diri. Bergelut dengan kenangan. Inilah aku, beberapa minggu terakhir aku selalu bangun dengan mata sembab.

***

            Cahaya matahari pagi menembus celah-celah ventilasi kamarku hingga berhasil membangunkanku dari mimpi buruk. Ya, lagi-lagi dengan mata sembab. Aku mulai bersiap-siap pergi ke sekolah, walau sejujurnya tak ada lagi semangat untuk memijakkan kaki di sana. Terlalu banyak kenangan dan luka yang masih menancap bebas di relung hati.Seperti biasa, sesampainya di kelas aku lebih memilih duduk dan berdiam diri. 

            Tak seperti dulu, aku terlalu rapuh untuk memulai kehidupan baruku tanpa Aldi, kekasihku—sebulan yang lalu.Ia meninggalkanku dengan luka yang teramat dalam, bagaimana mungkin tidak? Jika sampai sekarang aku di katakan gagal move on oleh teman-temanku, itu tandanya aku masih cinta. Mungkin tidak dengannya.

.***

            Malam sunyi mulai menampakkan diri, bintang-bintang tak pernah lelah mendamping rembulan yang bergelayut manja menyinari sebagian bumi. Kuhembuskan nafas perlahan, jemari ini dengan sigap menekan tombol on pada radio kesayanganku.Suara wanita itu sangat kuhafal. Begitu lihainya memainkan kata-kata cinta bagi para manusia galau sepertiku. Memutarkan lagu-lagu romantis membuat mata ini mulai menganak sungai.

            Tak ada hal terindah untukku selain menangis, mengingat kenangan lalu bersama Aldi.Memang ini salahku, aku yang memutuskan hubungan kita karena sifatnya yang mulai menghindar. Perhatiannya mulai berkurang, sering marah-marah bahkan tak menghubungiku sama sekali. Oh, aku pikir aku tak salah memutuskannya.Aku berfikir bahwa memutuskannya adalah salah satu cara agar ia berfikir dan akan mengejarku kembali setelah ia sadar.Tapi tidak!Inilah yang membuatku geram, aku lemah, aku terpukul....     
     
Esoknya, setelah aku memutuskan Aldi, ia terlihat bergandengan tangan dengan wanita lain. Ia menjalin hubungan dengan Nia. 

“Aldi? Kamu ngapain gandengan sama dia?!” ucapku geram menepis genggaman jemari mereka.
“Memang kenapa? Kita kan udah putus, toh kamu yang minta. Jadi bebas dong aku mau ngapain,” Aldi mulai menampakkan wajah sinis. 

Nia mulai memperlihatkan raut kemenangan, ia menatapku dengan senyuman mengejek. Aku masih terpaku. 

“Aldi benar juga, kan aku yang mutusin dia,” bibirku mengerucut, “tapi kenapa dia langsung jadian? Sama Nia pula. Dia kan musuhku, Sayang!!"
Kembali aku menangis di toilet sekolah.


***

Pacarku sayangilah aku
Seperti kumenyayangimu
Pacarku cintailah akuSeperti ku mencintaimu
Tapi, kamu kok selingkuh
Tapi, kamu kok selingkuh ...

Tak terasa mata ini meneteskan kristal bening.  

“Mah, udahan ya, potong bawangnya? Vinda nggak kuat!”      
       
Aku berlari sekencang mungkin menaiki anak tangga, mengunci pintu dan mengeraskan volume radio.“Lagu itu ...,” bibirku membentuk perahu terbalik.

“Kamu selingkuh, Al! Nggak mungkin kan kamu langsung jadian sama Nia kalo sebelum-sebelumnya kamu nggak menjalin hubungan sama dia! Pantas saja kamu nggak memberontak saat aku bilang putus, kaya dulu.”

Kesedihan hatiku mulai membuncah. 

“Sakitnya tuh disini!” teriakku di depan cermin. 

            Kenangan bersama Aldi mulai terputar kembali, masa lau terekam secara utuh. Aku ingat sekali saat pertama kali Aldi mengajakku pergi ke taman, memberi kejutan di hari ulang tahunku, menjemputku di kelas, selalu mengantarku pulang hingga berhasil membuat teman-teman iri dengan keromantisan kami. Aku rindu masa itu. Semua mimpi indah benar-benar telah sirna. 

"Udahlah, guys.Kenapa lo kudu nyiksa diri dengan mengingat mantan?Toh ia udah bahagia ama yang lain. Move on dong! Ayo bangkit!Jual semua pemberian mantan lo, buat apa di simpen kalo cuman bikin mewek?"

Kata-kata si penyiar yang terakhir membuatku bangkit dari tidurku. Aku tersenyum kecil, kuusap sisa-sisa air mata di sudut mata ini. Aku beranjak ke meja belajar.Kuambil kotak kecil berwarna pink dari dalam laci. Kubuka perlahan. Ya, kalung liontin pemberian Aldi masih tersimpan rapi disini. Sebenarnya ingin aku membuangnya, namun sayang, ini benda mahal.Bagaimana kalau aku mengikuti kata-kata Kak Rere? Aku jual saja benda ini.Pikiran bodohku mulai bekerja. Kukumpulkan semua barang-barang dari Aldi. Penyiar itu cerdas! Terdengar tawa konyolku menggema.


***

               Kini aku mulai sadar. Aku terlalu lemah untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Biarlah Aldi bahagia dengan pilihannya. Tanpanya aku juga masih bisa berdiri.

“Vin, lo udah waras?” tegur Ririn, teman sebangkuku.
“Jadi maksud lo kemaren-kemaren gue gila gitu?” aku bersungut.
“Bukan itu, semalem lo nggak nangis, ya? Mata lo nggak sembab tuh. Ciee ... udah bisa move on ternyata.” 

Aku yang tak menyadarinya segera mengambil kaca dari dalam tas. Bibirku tersungging lebar. Aku berhasil!

Sepulang sekolah aku bergegas menuju studio Radio Rasta FM, setelah beberapa hari mencari informasi tentang sang penyiar. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya, karena berkat saran-saranya aku berhasil move on. Aku berlari menembus ruang-ruang penting.

“Kak Rere?”
“Siapa ya?” tanyanya bingung. Aku tak menjawab. Kupeluk tubuhnya erat sambil menangis. Ia terdiam.
“Teruslah memotivasi para manusia galau. Kau berhasil, Kak!” 

Kutinggalkan ia yang masih terperanggah atas kehadiranku.


 Riska Multavia
Maret 2015

Komentar